Langsung ke konten utama

Esai Kepenulisan - Idola dalam Menulis: Belajar dari Penulis yang Tidak Berisik

Dalam perjalanan menulis, saya perlahan menyadari bahwa idola tidak selalu hadir sebagai sosok yang ingin ditiru sepenuhnya. Mereka lebih sering hadir sebagai penanda arah—pengingat tentang bagaimana saya ingin berdiri sebagai penulis, bukan bagaimana saya ingin terlihat.


Saya tidak pernah tertarik pada karya yang memaksa emosi pembacanya. Bukan karena emosi itu salah, tetapi karena hidup sendiri sudah cukup bising. Yang saya cari justru penulis-penulis yang berani menahan diri, yang percaya bahwa keheningan juga bisa menjadi medium cerita. Dari sanalah saya mulai menemukan idola-idola saya dalam menulis.




Salah satu nama yang paling sering saya rasakan kedekatannya adalah Kazuo Ishiguro. Dalam novel-novelnya, Ishiguro tidak tergesa menjelaskan konflik atau emosi tokohnya. Ia membiarkan perasaan tumbuh pelan, sering kali melalui ingatan, penyesalan, dan hal-hal yang tidak pernah benar-benar terucap. Yang menarik, konflik terbesar dalam karyanya hampir selalu bersifat batiniah. Pembaca tidak diajak menyaksikan ledakan peristiwa, melainkan diajak duduk di ruang sunyi bersama tokohnya. Dari Ishiguro, saya belajar bahwa menahan emosi justru bisa membuatnya bertahan lebih lama.


Nama lain yang memberi pengaruh besar adalah Raymond Carver. Bahasa Carver sederhana, nyaris datar, bahkan kadang terlihat biasa saja. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia menulis tentang manusia-manusia kecil, masalah sehari-hari, dan keputusan-keputusan yang tampak sepele, tetapi berdampak besar secara emosional. Carver tidak memberi kesimpulan moral. Ia hanya menyajikan potongan hidup, lalu membiarkan pembaca menyelesaikannya sendiri. Dari Carver, saya belajar bahwa kesederhanaan bukan berarti dangkal, dan bahwa satu gestur kecil bisa berbicara lebih keras daripada monolog panjang.


Dalam konteks Indonesia, saya menemukan kedekatan rasa dengan karya-karya Dee Lestari, terutama pada fase tertentu dari kepenulisannya. Dee adalah penulis yang sangat percaya pada kecerdasan pembaca. Ia tidak selalu menjelaskan makna secara langsung, dan tidak takut membiarkan pembaca bekerja. Meski karyanya kerap menyentuh wilayah filosofis dan spiritual, ia tetap menjaga etika bercerita—tidak menggurui, tidak memaksa. Dari Dee, saya belajar pentingnya kejujuran intelektual, bahwa menulis dengan tenang tidak berarti menghindari kedalaman.


Saya juga banyak belajar dari Seno Gumira Ajidarma, terutama pada karya-karyanya yang sunyi dan reflektif. Seno adalah penulis yang sangat nyaman dengan ruang kosong. Ia tidak selalu menyodorkan jawaban, bahkan tidak selalu menawarkan kejelasan. Ada keberanian dalam caranya membiarkan pembaca berada dalam ketidakpastian. Dari Seno, saya memahami bahwa diam bisa menjadi sikap, dan bahwa ketidaklengkapan tidak selalu harus ditambal.


Nama lain yang sering muncul dalam perjalanan membaca saya adalah Haruki Murakami, meski dengan jarak tertentu. Saya tidak tertarik pada sisi surealisnya, tetapi pada caranya menghadirkan kesepian dengan ritme yang konsisten. Murakami sering menulis tentang manusia yang berjalan sendirian di dalam hidupnya, tidak selalu untuk mencari jawaban, tetapi sekadar untuk bertahan. Dari Murakami, saya belajar tentang ritme, tentang bagaimana cerita bisa berjalan pelan tanpa kehilangan daya tarik, selama nadanya dijaga dengan jujur.


Meski masing-masing penulis tersebut memiliki gaya dan dunia yang berbeda, ada satu benang merah yang saya rasakan kuat: mereka menulis dengan etika. Mereka tidak menjadikan penderitaan sebagai tontonan. Mereka tidak memelintir luka demi sensasi. Mereka tidak tergesa menyenangkan pembaca. Sebaliknya, mereka memperlakukan pembaca sebagai manusia dewasa yang mampu merasakan, menimbang, dan menyimpulkan sendiri.


Dari para idola ini, saya belajar bahwa menulis bukan tentang menjadi pusat perhatian. Justru sebaliknya, menulis adalah tentang menyingkirkan ego, memberi ruang bagi tokoh dan pembaca untuk bertemu tanpa intervensi berlebihan. Cerita tidak harus menjadi panggung, ia bisa menjadi kursi di sudut ruangan—tempat seseorang duduk sebentar sebelum melanjutkan hidupnya.


Pengaruh mereka tidak membuat saya ingin meniru. Saya tidak ingin menjadi Ishiguro versi Indonesia, atau Carver yang dipindahkan ke konteks lokal. Yang saya pelajari adalah sikap menulis: keberanian untuk pelan, kesediaan untuk jujur, dan disiplin untuk tidak berisik. Saya percaya setiap penulis harus menemukan suaranya sendiri, tetapi suara itu perlu dibangun di atas kesadaran, bukan ambisi.


Pada akhirnya, idola dalam menulis bagi saya bukanlah mereka yang membuat saya ingin menjadi seperti mereka, melainkan mereka yang membantu saya lebih jujur pada diri sendiri. Mereka mengingatkan bahwa menulis bisa menjadi tindakan etis, bahwa cerita bisa menjadi ruang aman, dan bahwa menemani pembaca—tanpa menguasai atau mengarahkan—adalah pilihan yang sah.


Saya menulis dengan keyakinan sederhana: jika sebuah cerita bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian, meski hanya sebentar, maka cerita itu sudah menjalankan fungsinya. Dan dari para idola inilah, saya belajar bahwa kadang, diam adalah bentuk kepedulian paling jujur dalam sastra.



Komentar

WA ME

WA Chat via WhatsApp

Live Chat

Postingan populer dari blog ini

10 Daftar Jurnal Sinta 4 Gratis

10 Daftar Jurnal Sinta 4 Gratis Pendahuluan Publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi merupakan kebutuhan penting bagi akademisi, mahasiswa, dan peneliti di Indonesia. Salah satu jalur yang paling sering dipilih adalah jurnal yang terindeks di SINTA (Science and Technology Index), yang memberikan peringkat dari SINTA 1 hingga SINTA 6. SINTA 4 berada di level menengah, yang berarti kualitasnya telah diakui secara nasional tetapi belum sampai kategori tertinggi. Masalah yang sering dihadapi penulis adalah biaya publikasi. Tidak sedikit jurnal mengenakan APC (Article Processing Charge) atau biaya pemrosesan artikel. Padahal banyak penulis—khususnya mahasiswa atau peneliti muda—membutuhkan jurnal yang gratis atau tanpa biaya publikasi. Artikel ini menyajikan 10 daftar jurnal SINTA 4 gratis (atau setidaknya open access tanpa APC signifikan), disertai scope, informasi penerbit, dan cara verifikasi. 1. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia (NJPI) Penerbit: Lembaga Sosial Rumah Indonesia beker...

Jurnal Sinta 5 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi

Pendahuluan Publikasi ilmiah adalah kewajiban bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti di Indonesia. Sejak diberlakukannya aturan akreditasi nasional melalui Science and Technology Index (Sinta) oleh Kemdikbudristek, jurnal dibagi dalam enam peringkat: Sinta 1 (paling tinggi) hingga Sinta 6 (paling rendah). Jurnal Sinta 5 menempati posisi menengah-bawah dalam sistem akreditasi, namun tetap terindeks resmi dan diakui untuk keperluan akademik. Publikasi di jurnal Sinta 5 sering menjadi pilihan mahasiswa S1, S2, atau peneliti pemula yang baru memulai karier akademik. Salah satu keuntungan adalah adanya banyak jurnal Sinta 5 gratis yang tidak membebankan biaya publikasi atau article processing charge (APC). Dengan demikian, peneliti bisa menulis, mengirim, dan menerbitkan artikel ilmiah tanpa khawatir soal biaya. Pengertian Jurnal Sinta 5 Gratis Jurnal Sinta 5: Jurnal nasional terakreditasi pada level menengah-bawah yang menunjukkan standar mutu cukup baik, konsistensi terbit, serta sistem edit...

Jurnal Sinta 3 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi

Jurnal Sinta 3 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi Pendahuluan Publikasi ilmiah merupakan syarat penting bagi dosen, mahasiswa, dan peneliti di Indonesia. Kenaikan jabatan akademik, kelulusan pascasarjana, hingga pengakuan penelitian seringkali bergantung pada publikasi di jurnal terakreditasi nasional. Untuk itu, pemerintah melalui Kemdikbudristek menyediakan Sinta (Science and Technology Index) sebagai sistem pemeringkatan jurnal. Jurnal terakreditasi diberi peringkat dari Sinta 1 (tertinggi) hingga Sinta 6 (terendah). Walau Sinta 1 dan 2 dianggap lebih prestisius, publikasi di Sinta 3 tetap bernilai tinggi dan sah digunakan untuk penilaian akademik. Menariknya, ada sejumlah jurnal Sinta 3 gratis yang tidak mengenakan biaya publikasi atau article processing charge (APC), sehingga menjadi solusi bagi penulis yang memiliki keterbatasan dana. Pengertian Jurnal Sinta 3 Gratis Jurnal Sinta 3 adalah jurnal nasional yang terakreditasi dengan kualitas menengah ke...

Membuat Grafik di SPSS — Panduan Lengkap

  Pendahuluan Grafik adalah alat visual yang sangat berguna untuk menyajikan data secara cepat dan jelas. Dalam konteks penelitian, pengajaran, atau pelaporan, grafik membantu pembaca memahami pola, distribusi, dan hubungan antarvariabel tanpa harus membaca tabel angka panjang. SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) menyediakan berbagai jenis grafik yang dapat disesuaikan untuk kebutuhan analisis kuantitatif. Artikel ini memberikan panduan langkah demi langkah untuk membuat, memformat, dan mengekspor grafik di SPSS, disertai tips praktis untuk menghasilkan visual yang informatif dan profesional. Mengapa Memilih Grafik di SPSS? SPSS memudahkan pembuatan grafik bagi peneliti yang bekerja dengan dataset besar. Keunggulannya meliputi: Antarmuka grafis yang intuitif (menu Chart Builder dan Legacy Dialogs). Kemampuan untuk menggabungkan statistik ringkasan langsung dalam grafik (misalnya mean, error bars). Opsi kustomisasi yang cukup untuk kebutuhan akademik dan presentasi. I...

Analisis Moderasi di SmartPLS: Panduan Akademik Lengkap untuk Penelitian Kuantitatif

  Pendahuluan Dalam penelitian kuantitatif, hubungan antara variabel tidak selalu bersifat sederhana dan langsung. Pada banyak kasus, kekuatan atau arah hubungan antara variabel independen dan dependen dapat dipengaruhi oleh variabel lain yang dikenal sebagai variabel moderator . Analisis yang melibatkan variabel moderator menjadi penting untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan realistis terhadap fenomena yang diteliti. Seiring berkembangnya metode analisis data, pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) semakin banyak digunakan, terutama dalam penelitian sosial, manajemen, pendidikan, dan bisnis. SmartPLS sebagai salah satu perangkat lunak PLS-SEM menyediakan fitur analisis moderasi yang relatif mudah digunakan, namun tetap memerlukan pemahaman konseptual yang kuat. Permasalahan umum yang sering dihadapi mahasiswa dan peneliti pemula adalah kebingungan dalam menentukan jenis moderasi, kesalahan dalam membangun model interaksi, serta ket...