Langsung ke konten utama

Apa Itu DOI (Digital Object Identifier)?

📖 Apa Itu DOI (Digital Object Identifier)?


Pendahuluan


Dalam era digital, publikasi ilmiah membutuhkan sistem identifikasi yang permanen dan konsisten. Salah satu standar global yang digunakan adalah Digital Object Identifier (DOI). DOI memberikan alamat unik bagi artikel jurnal, buku, prosiding, hingga dataset penelitian sehingga tetap dapat diakses meskipun lokasi file berubah. Artikel ini membahas DOI secara komprehensif dalam kerangka 5W1H.


1. What (Apa Itu DOI?)


DOI adalah kode alfanumerik unik yang digunakan untuk mengidentifikasi dokumen digital secara permanen. DOI biasanya berbentuk angka dengan prefiks dan sufiks yang dipisahkan garis miring, misalnya: 10.1016/j.chb.2023.107620.


Prefiks (prefix): kode penerbit yang diberikan oleh DOI Registration Agency (misalnya CrossRef).


Sufiks (suffix): nomor khusus dari penerbit yang unik untuk setiap dokumen.



Fungsi utama DOI adalah:


1. Menjadi identifier permanen yang tidak berubah.

2. Mempermudah sitasi dan indexing dalam database akademik (Scopus, WoS, Google Scholar).

3. Menjamin aksesibilitas karya ilmiah dalam jangka panjang.


📌 Contoh: Artikel di Elsevier dengan DOI 10.1016/j.chb.2023.107620 tetap bisa diakses meskipun URL jurnal berubah, karena DOI selalu diarahkan ke tautan terbaru.


2. Who (Siapa yang Menggunakan DOI?)


DOI digunakan oleh berbagai pihak dalam ekosistem akademik:

1. Penulis dan Peneliti – mencantumkan DOI pada daftar pustaka agar sitasi terstandarisasi.

2. Penerbit Jurnal – memberikan DOI pada artikel agar lebih kredibel dan terindeks database internasional.

3. Lembaga Indeksasi – Scopus, Web of Science, CrossRef, PubMed menggunakan DOI untuk tracking sitasi.

4. Mahasiswa & Dosen – memudahkan pencarian artikel valid untuk kebutuhan penelitian.

5. Institusi & Perpustakaan – memastikan akses artikel digital tetap tersedia meski platform berubah.

📌 Contoh: Universitas besar seperti IPB atau UI mewajibkan peneliti mencantumkan DOI di laporan penelitian agar validasi lebih mudah.


3. When (Kapan DOI Digunakan?)


DOI biasanya digunakan dalam konteks berikut:

Saat publikasi artikel – setiap artikel jurnal resmi diberikan DOI sebelum dipublikasikan.

Pada tahap sitasi – penulis wajib menuliskan DOI dalam daftar pustaka (APA Style, Chicago Style, dll).

Saat indexing – database seperti Scopus otomatis mendeteksi DOI untuk analisis sitasi.

Untuk dataset & e-book – DOI juga dipakai untuk mengidentifikasi data penelitian dan buku elektronik.


📌 Contoh: Sejak 2019, American Psychological Association (APA) mewajibkan DOI dituliskan di daftar pustaka jika tersedia (APA, 2020).


4. Where (Di Mana DOI Digunakan?)


DOI digunakan di berbagai platform:

Jurnal internasional → Elsevier, Springer, Taylor & Francis, Wiley.

Repositori ilmiah → Zenodo, OSF, Figshare.

Lembaga indexing → Scopus, WoS, CrossRef.

Platform akademik → ResearchGate, Academia.edu (menampilkan DOI otomatis pada publikasi).


📌 Contoh: Dataset di Zenodo yang didukung oleh European Open Science Cloud diberikan DOI agar mudah disitasi di artikel ilmiah (Smith et al., 2021).


5. Why (Mengapa DOI Penting?)


DOI memiliki peran strategis dalam publikasi:

1. Kredibilitas – artikel dengan DOI lebih dipercaya sebagai sumber ilmiah.

2. Permanen – meskipun link jurnal berubah, DOI tetap aktif.

3. Akses global – DOI diakui oleh sistem akademik di seluruh dunia.

4. Tracking sitasi – memudahkan menghitung jumlah sitasi penulis.

5. Syarat publikasi bereputasi – hampir semua jurnal Scopus/WoS mewajibkan DOI.


📌 Contoh: Artikel tanpa DOI lebih sulit dilacak dalam citation metrics sehingga berisiko dianggap kurang kredibel.


6. How (Bagaimana Cara Menggunakan DOI?)


Langkah praktis:

1. Mencari DOI – biasanya tercantum di halaman pertama artikel jurnal.

2. Menggunakan DOI – dapat diakses melalui situs resmi: https://doi.org/[kode].

Contoh: https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107620

3. Menuliskan DOI dalam sitasi – sesuai APA 7th edition:

> Author, A. A. (Year). Title of article. Journal Name, 35(2), 123–145. https://doi.org/xxxx


📊 Tabel Perbandingan: DOI vs URL Biasa


Aspek DOI URL Biasa


Permanensi Tetap aktif meski situs berubah Bisa rusak (broken link)

Standar Akademik Wajib di Scopus/WoS Tidak diakui formal

Tracking Sitasi Bisa otomatis dihitung (Scopus, WoS, GS) Tidak bisa otomatis

Kredibilitas Lebih tinggi, resmi global Lemah, tidak semua valid

Contoh https://doi.org/10.1016/j.chb.2023.107620 https://journal.com/article/123


✅ Kelebihan DOI

Kredibel, standar global.

Permanen dan selalu aktif.

Mendukung indexing dan sitasi otomatis.



⚠️ Kekurangan DOI

Tidak semua jurnal nasional menyediakan DOI.

Biaya tambahan bagi penerbit kecil (CrossRef membership).

Perlu pemeliharaan dari penerbit agar tetap valid.


Contoh Praktis

Seorang mahasiswa menulis skripsi dan mengambil referensi dari artikel Scopus. Dengan menuliskan DOI, pembaca dapat langsung mengecek artikel asli melalui tautan resmi. Tanpa DOI, ada risiko pembaca diarahkan ke link rusak atau situs tidak resmi.


Ajakan Diskusi


📌 Menurut Anda, apakah semua jurnal nasional di Indonesia sebaiknya wajib menggunakan DOI untuk meningkatkan reputasi global?

💬 Tinggalkan pendapat Anda di laacademic.com 🚀


📚 Referensi (APA, Scopus & Books 2019–2024)

CrossRef. (2022). Annual Report 2022: DOI adoption and impact. CrossRef.

Elsevier. (2023). Research metrics and citation analysis. Elsevier Publishing.

Hair, J. F., Page, M. J., & Brunsveld, N. (2020). Essentials of business research methods. Routledge.

Jamali, H. R., & Nabavi, M. (2019). Open access and DOI citation advantage: A Scopus-based study. Scientometrics, 120(2), 633–650.

Paskin, N. (2020). DOI and scholarly communication. Information Services & Use, 40(3), 271–286.

Smith, J., Brown, L., & Taylor, M. (2021). Data sharing practices in open science: DOI as an enabler. Journal of Data and Information Science, 6(4), 122–139.

Vasilev, J., & Milenkovic, M. (2022). The role of DOI in research evaluation systems. Journal of Informetrics, 16(3), 101–115.

Wang, Y., & Xu, L. (2023). Digital identifiers in scholarly publishing: A systematic review. Scientometrics, 128(5), 2101–2125.



Please check our service, if you need help to publish your article in Scopus, Copernicus or even Sinta journal. 



Komentar

WA ME

WA Chat via WhatsApp

Live Chat

Postingan populer dari blog ini

10 Daftar Jurnal Sinta 4 Gratis

10 Daftar Jurnal Sinta 4 Gratis Pendahuluan Publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi merupakan kebutuhan penting bagi akademisi, mahasiswa, dan peneliti di Indonesia. Salah satu jalur yang paling sering dipilih adalah jurnal yang terindeks di SINTA (Science and Technology Index), yang memberikan peringkat dari SINTA 1 hingga SINTA 6. SINTA 4 berada di level menengah, yang berarti kualitasnya telah diakui secara nasional tetapi belum sampai kategori tertinggi. Masalah yang sering dihadapi penulis adalah biaya publikasi. Tidak sedikit jurnal mengenakan APC (Article Processing Charge) atau biaya pemrosesan artikel. Padahal banyak penulis—khususnya mahasiswa atau peneliti muda—membutuhkan jurnal yang gratis atau tanpa biaya publikasi. Artikel ini menyajikan 10 daftar jurnal SINTA 4 gratis (atau setidaknya open access tanpa APC signifikan), disertai scope, informasi penerbit, dan cara verifikasi. 1. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia (NJPI) Penerbit: Lembaga Sosial Rumah Indonesia beker...

Jurnal Sinta 5 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi

Pendahuluan Publikasi ilmiah adalah kewajiban bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti di Indonesia. Sejak diberlakukannya aturan akreditasi nasional melalui Science and Technology Index (Sinta) oleh Kemdikbudristek, jurnal dibagi dalam enam peringkat: Sinta 1 (paling tinggi) hingga Sinta 6 (paling rendah). Jurnal Sinta 5 menempati posisi menengah-bawah dalam sistem akreditasi, namun tetap terindeks resmi dan diakui untuk keperluan akademik. Publikasi di jurnal Sinta 5 sering menjadi pilihan mahasiswa S1, S2, atau peneliti pemula yang baru memulai karier akademik. Salah satu keuntungan adalah adanya banyak jurnal Sinta 5 gratis yang tidak membebankan biaya publikasi atau article processing charge (APC). Dengan demikian, peneliti bisa menulis, mengirim, dan menerbitkan artikel ilmiah tanpa khawatir soal biaya. Pengertian Jurnal Sinta 5 Gratis Jurnal Sinta 5: Jurnal nasional terakreditasi pada level menengah-bawah yang menunjukkan standar mutu cukup baik, konsistensi terbit, serta sistem edit...

Jurnal Sinta 3 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi

Jurnal Sinta 3 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi Pendahuluan Publikasi ilmiah merupakan syarat penting bagi dosen, mahasiswa, dan peneliti di Indonesia. Kenaikan jabatan akademik, kelulusan pascasarjana, hingga pengakuan penelitian seringkali bergantung pada publikasi di jurnal terakreditasi nasional. Untuk itu, pemerintah melalui Kemdikbudristek menyediakan Sinta (Science and Technology Index) sebagai sistem pemeringkatan jurnal. Jurnal terakreditasi diberi peringkat dari Sinta 1 (tertinggi) hingga Sinta 6 (terendah). Walau Sinta 1 dan 2 dianggap lebih prestisius, publikasi di Sinta 3 tetap bernilai tinggi dan sah digunakan untuk penilaian akademik. Menariknya, ada sejumlah jurnal Sinta 3 gratis yang tidak mengenakan biaya publikasi atau article processing charge (APC), sehingga menjadi solusi bagi penulis yang memiliki keterbatasan dana. Pengertian Jurnal Sinta 3 Gratis Jurnal Sinta 3 adalah jurnal nasional yang terakreditasi dengan kualitas menengah ke...

Membuat Grafik di SPSS — Panduan Lengkap

  Pendahuluan Grafik adalah alat visual yang sangat berguna untuk menyajikan data secara cepat dan jelas. Dalam konteks penelitian, pengajaran, atau pelaporan, grafik membantu pembaca memahami pola, distribusi, dan hubungan antarvariabel tanpa harus membaca tabel angka panjang. SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) menyediakan berbagai jenis grafik yang dapat disesuaikan untuk kebutuhan analisis kuantitatif. Artikel ini memberikan panduan langkah demi langkah untuk membuat, memformat, dan mengekspor grafik di SPSS, disertai tips praktis untuk menghasilkan visual yang informatif dan profesional. Mengapa Memilih Grafik di SPSS? SPSS memudahkan pembuatan grafik bagi peneliti yang bekerja dengan dataset besar. Keunggulannya meliputi: Antarmuka grafis yang intuitif (menu Chart Builder dan Legacy Dialogs). Kemampuan untuk menggabungkan statistik ringkasan langsung dalam grafik (misalnya mean, error bars). Opsi kustomisasi yang cukup untuk kebutuhan akademik dan presentasi. I...

Analisis Moderasi di SmartPLS: Panduan Akademik Lengkap untuk Penelitian Kuantitatif

  Pendahuluan Dalam penelitian kuantitatif, hubungan antara variabel tidak selalu bersifat sederhana dan langsung. Pada banyak kasus, kekuatan atau arah hubungan antara variabel independen dan dependen dapat dipengaruhi oleh variabel lain yang dikenal sebagai variabel moderator . Analisis yang melibatkan variabel moderator menjadi penting untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan realistis terhadap fenomena yang diteliti. Seiring berkembangnya metode analisis data, pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) semakin banyak digunakan, terutama dalam penelitian sosial, manajemen, pendidikan, dan bisnis. SmartPLS sebagai salah satu perangkat lunak PLS-SEM menyediakan fitur analisis moderasi yang relatif mudah digunakan, namun tetap memerlukan pemahaman konseptual yang kuat. Permasalahan umum yang sering dihadapi mahasiswa dan peneliti pemula adalah kebingungan dalam menentukan jenis moderasi, kesalahan dalam membangun model interaksi, serta ket...