Langsung ke konten utama

Apa Itu Impact Factor dan CiteScore? Analisis Perbandingan dalam Format

 

1. What (Apa Itu Impact Factor dan CiteScore?)

Impact Factor (IF) adalah metrik bibliometrik yang diperkenalkan oleh Eugene Garfield melalui Journal Citation Reports (JCR), kini dikelola oleh Clarivate Analytics. IF dihitung berdasarkan jumlah sitasi artikel jurnal dalam dua tahun terakhir dibandingkan jumlah artikel yang diterbitkan dalam periode yang sama (Garfield, 2019).

CiteScore (CS) adalah metrik alternatif yang dikembangkan oleh Elsevier pada 2016. Berbeda dengan IF, CiteScore menghitung jumlah sitasi terhadap artikel yang diterbitkan dalam empat tahun terakhir dan tersedia secara gratis melalui platform Scopus (Martín-Martín et al., 2021).

👉 Dengan kata lain:

  • IF = eksklusif (Clarivate, Web of Science), jendela 2 tahun.

  • CS = terbuka (Scopus, Elsevier), jendela 4 tahun.


2. Who (Siapa yang Menggunakan Impact Factor dan CiteScore?)

Kedua metrik digunakan oleh berbagai pihak dalam ekosistem akademik:

  1. Peneliti → untuk memilih jurnal target publikasi.

  2. Dosen dan Mahasiswa Pascasarjana → sebagai rujukan kualitas jurnal untuk skripsi, tesis, dan disertasi.

  3. Institusi Pendidikan Tinggi → untuk akreditasi, pemeringkatan, dan evaluasi kinerja penelitian.

  4. Pemerintah dan Lembaga Pendanaan → menggunakan metrik ini dalam seleksi hibah riset (Sugimoto & Larivière, 2018).

  5. Penerbit Jurnal → untuk mengukur kinerja editorial dan menarik penulis.

Contoh: Seorang mahasiswa S2 memilih jurnal Q1 dengan IF = 6.2 untuk publikasi artikelnya karena dinilai lebih bergengsi dibanding jurnal Q3 dengan CiteScore = 2.3.


3. When (Kapan Impact Factor dan CiteScore Digunakan?)

Impact Factor diperkenalkan sejak 1975 melalui Journal Citation Reports. Sementara CiteScore relatif baru, pertama kali diumumkan oleh Elsevier pada 2016 sebagai respons atas keterbatasan IF (Harzing & Alakangas, 2021).

Penggunaan saat ini:

  • IF → lebih sering dipakai di bidang biomedis, sains murni, dan teknik.

  • CiteScore → populer di bidang ilmu sosial, bisnis, dan humaniora karena basis data Scopus lebih luas.

👉 Sejak pandemi COVID-19, permintaan publikasi meningkat, dan banyak universitas di Asia, termasuk Indonesia, mulai menekankan penggunaan CiteScore selain Impact Factor (Xu et al., 2021).


4. Where (Di Mana Impact Factor dan CiteScore Ditemukan?)

  • Impact Factor hanya tersedia melalui Journal Citation Reports (JCR) yang berbasis Web of Science. Untuk mengakses data lengkap, diperlukan langganan (Clarivate, 2023).

  • CiteScore tersedia secara gratis di platform Scopus (https://www.scopus.com/sources), sehingga lebih mudah diakses oleh peneliti di negara berkembang.

Contoh: Dosen di universitas Indonesia bisa mengecek peringkat jurnal melalui Scopus Sources tanpa perlu membayar, sementara untuk JCR, mereka perlu akses institusional.


5. Why (Mengapa Impact Factor dan CiteScore Penting?)

  1. Mengukur Reputasi Jurnal → semakin tinggi skor, semakin tinggi visibilitas dan kepercayaan akademik.

  2. Membantu Pemilihan Jurnal → penulis bisa menentukan target sesuai kualitas dan peluang diterima.

  3. Evaluasi Kinerja Akademik → pemerintah Indonesia menggunakan data IF/CS dalam kenaikan jabatan fungsional dosen.

  4. Dasar Akreditasi Institusi → universitas mengejar publikasi di jurnal dengan IF tinggi atau CiteScore Q1/Q2.

Menurut Bornmann & Haunschild (2019), metrik ini tidak sempurna, tetapi tetap digunakan secara luas karena memberikan indikator objektif kualitas jurnal.


6. How (Bagaimana Cara Menghitung Impact Factor dan CiteScore?)

Impact Factor (2 tahun)

IF=Jumlah sitasi dalam 2 tahunJumlah artikel yang diterbitkan dalam 2 tahunIF = \frac{\text{Jumlah sitasi dalam 2 tahun}}{\text{Jumlah artikel yang diterbitkan dalam 2 tahun}}

Contoh: Jika jurnal menerbitkan 200 artikel (2021–2022) dan menerima 600 sitasi pada 2023, maka IF = 600 / 200 = 3.0.

CiteScore (4 tahun)

CS=Jumlah sitasi dalam 4 tahunJumlah artikel yang diterbitkan dalam 4 tahunCS = \frac{\text{Jumlah sitasi dalam 4 tahun}}{\text{Jumlah artikel yang diterbitkan dalam 4 tahun}}

Contoh: Jurnal menerbitkan 400 artikel (2019–2022) dengan total 1200 sitasi → CiteScore = 1200 / 400 = 3.0.


📊 Tabel Perbedaan Impact Factor vs CiteScore

AspekImpact Factor (IF)CiteScore (CS)
PenerbitClarivate Analytics (Web of Science)Elsevier (Scopus)
Tahun Rilis19752016
AksesBerbayar (JCR)Gratis (Scopus Sources)
Jendela Perhitungan2 tahun4 tahun
Cakupan Jurnal± 13.000± 28.000
Bidang PopulerBiomedis, sains murniSosial, bisnis, humaniora
KelemahanEksklusif, data terbatasTerlalu luas, rentan bias

✅ Keunggulan Impact Factor

  1. Diakui luas dan historis (lebih dari 40 tahun).

  2. Menjadi “mata uang” utama di bidang sains murni.

  3. Selektif karena hanya jurnal bereputasi tinggi yang masuk JCR.

⚠️ Kekurangan Impact Factor

  1. Akses terbatas (berbayar).

  2. Hanya pakai jendela 2 tahun (kurang representatif di bidang sosial).

  3. Rentan manipulasi editorial (self-citation).

✅ Keunggulan CiteScore

  1. Gratis dan terbuka untuk umum.

  2. Cakupan lebih luas (28.000+ jurnal).

  3. Jendela 4 tahun → lebih representatif.

⚠️ Kekurangan CiteScore

  1. Masih relatif baru → belum seprestisius IF.

  2. Rentan bias karena memasukkan semua jenis dokumen (termasuk editorial, letter).

  3. Tidak semua jurnal Scopus memiliki reputasi tinggi.


📌 Contoh Penerapan

  • Bidang Kedokteran: Mahasiswa S3 kedokteran memilih jurnal dengan IF 8.5 (The Lancet Infectious Diseases) untuk publikasi disertasinya.

  • Bidang Ekonomi: Dosen ekonomi memilih jurnal Q2 dengan CiteScore 3.2 (Journal of Behavioral and Experimental Economics) karena akses lebih mudah.

  • Bidang Pendidikan: Mahasiswa pascasarjana memilih jurnal dengan CiteScore 2.5 untuk mempercepat publikasi skripsinya, meski IF rendah.


💬 Ajakan Diskusi

Impact Factor dan CiteScore adalah dua indikator penting kualitas jurnal, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangan.

👉 Menurut Anda, apakah dosen dan mahasiswa Indonesia sebaiknya fokus pada Impact Factor yang prestisius namun mahal, atau CiteScore yang lebih terbuka dan mudah diakses?
Diskusikan pendapat Anda di laacademic.com 🚀


📚 Referensi (APA, 2019–2024, Scopus & Books)

  • Bornmann, L., & Haunschild, R. (2019). Alternative metrics and traditional bibliometrics: Towards a better understanding of complementarity and differences. Scientometrics, 118(2), 1–19.

  • Garfield, E. (2019). Journal impact factor: A brief review. Annals of Library and Information Studies, 66(2), 85–90.

  • Harzing, A. W., & Alakangas, S. (2021). A longitudinal study of author impact in Scopus and Web of Science. Scientometrics, 126(4), 3021–3045.

  • Martín-Martín, A., Orduna-Malea, E., Thelwall, M., & López-Cózar, E. D. (2021). Google Scholar, Web of Science, and Scopus: Which is better for bibliometric analysis? Scientometrics, 126(1), 785–812.

  • Sugimoto, C. R., & Larivière, V. (2018). Measuring research: What everyone needs to know. Oxford University Press.

  • Xu, J., Wang, J., & Zhao, Y. (2021). Academic identities in transition: Impact of bibliometrics in the COVID-19 era. Journal of Scholarly Publishing, 52(4), 233–249.



👍 Hal Baik dari Impact Factor dan CiteScore

  1. Standar global → kedua metrik dipakai luas oleh universitas, peneliti, dan lembaga akreditasi.

  2. Membantu pemilihan jurnal → penulis bisa lebih strategis menargetkan jurnal Q1/Q2.

  3. Meningkatkan reputasi → publikasi di jurnal IF tinggi atau CiteScore Q1 memberi nilai tambah besar dalam karier akademik.

  4. Alat evaluasi → universitas bisa menilai produktivitas dan dampak riset dosen secara objektif.


👎 Hal Buruk dari Impact Factor dan CiteScore

  1. Mendorong budaya “angka” → fokus ke metrik, bukan kualitas isi penelitian (Bornmann & Haunschild, 2019).

  2. Bias bidang ilmu → bidang biomedis lebih cepat naik sitasi (IF), sedangkan humaniora sering rendah meski berkualitas.

  3. Manipulasi editorial → misalnya excessive self-citation untuk meningkatkan skor.

  4. Akses terbatas → IF hanya melalui JCR berbayar; CiteScore gratis, tapi tidak semua jurnal Scopus berkualitas tinggi.


“Explore our services—whether you need support to publish your article in Scopus, Copernicus, or Sinta journals, or other academic assistance, we’re here to help.”






Komentar

WA ME

WA Chat via WhatsApp

Live Chat

Postingan populer dari blog ini

10 Daftar Jurnal Sinta 4 Gratis

10 Daftar Jurnal Sinta 4 Gratis Pendahuluan Publikasi ilmiah di jurnal terakreditasi merupakan kebutuhan penting bagi akademisi, mahasiswa, dan peneliti di Indonesia. Salah satu jalur yang paling sering dipilih adalah jurnal yang terindeks di SINTA (Science and Technology Index), yang memberikan peringkat dari SINTA 1 hingga SINTA 6. SINTA 4 berada di level menengah, yang berarti kualitasnya telah diakui secara nasional tetapi belum sampai kategori tertinggi. Masalah yang sering dihadapi penulis adalah biaya publikasi. Tidak sedikit jurnal mengenakan APC (Article Processing Charge) atau biaya pemrosesan artikel. Padahal banyak penulis—khususnya mahasiswa atau peneliti muda—membutuhkan jurnal yang gratis atau tanpa biaya publikasi. Artikel ini menyajikan 10 daftar jurnal SINTA 4 gratis (atau setidaknya open access tanpa APC signifikan), disertai scope, informasi penerbit, dan cara verifikasi. 1. Nusantara: Jurnal Pendidikan Indonesia (NJPI) Penerbit: Lembaga Sosial Rumah Indonesia beker...

Jurnal Sinta 5 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi

Pendahuluan Publikasi ilmiah adalah kewajiban bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti di Indonesia. Sejak diberlakukannya aturan akreditasi nasional melalui Science and Technology Index (Sinta) oleh Kemdikbudristek, jurnal dibagi dalam enam peringkat: Sinta 1 (paling tinggi) hingga Sinta 6 (paling rendah). Jurnal Sinta 5 menempati posisi menengah-bawah dalam sistem akreditasi, namun tetap terindeks resmi dan diakui untuk keperluan akademik. Publikasi di jurnal Sinta 5 sering menjadi pilihan mahasiswa S1, S2, atau peneliti pemula yang baru memulai karier akademik. Salah satu keuntungan adalah adanya banyak jurnal Sinta 5 gratis yang tidak membebankan biaya publikasi atau article processing charge (APC). Dengan demikian, peneliti bisa menulis, mengirim, dan menerbitkan artikel ilmiah tanpa khawatir soal biaya. Pengertian Jurnal Sinta 5 Gratis Jurnal Sinta 5: Jurnal nasional terakreditasi pada level menengah-bawah yang menunjukkan standar mutu cukup baik, konsistensi terbit, serta sistem edit...

Jurnal Sinta 3 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi

Jurnal Sinta 3 Gratis: Panduan Lengkap + 10 Contoh Jurnal Tanpa Biaya Publikasi Pendahuluan Publikasi ilmiah merupakan syarat penting bagi dosen, mahasiswa, dan peneliti di Indonesia. Kenaikan jabatan akademik, kelulusan pascasarjana, hingga pengakuan penelitian seringkali bergantung pada publikasi di jurnal terakreditasi nasional. Untuk itu, pemerintah melalui Kemdikbudristek menyediakan Sinta (Science and Technology Index) sebagai sistem pemeringkatan jurnal. Jurnal terakreditasi diberi peringkat dari Sinta 1 (tertinggi) hingga Sinta 6 (terendah). Walau Sinta 1 dan 2 dianggap lebih prestisius, publikasi di Sinta 3 tetap bernilai tinggi dan sah digunakan untuk penilaian akademik. Menariknya, ada sejumlah jurnal Sinta 3 gratis yang tidak mengenakan biaya publikasi atau article processing charge (APC), sehingga menjadi solusi bagi penulis yang memiliki keterbatasan dana. Pengertian Jurnal Sinta 3 Gratis Jurnal Sinta 3 adalah jurnal nasional yang terakreditasi dengan kualitas menengah ke...

Membuat Grafik di SPSS — Panduan Lengkap

  Pendahuluan Grafik adalah alat visual yang sangat berguna untuk menyajikan data secara cepat dan jelas. Dalam konteks penelitian, pengajaran, atau pelaporan, grafik membantu pembaca memahami pola, distribusi, dan hubungan antarvariabel tanpa harus membaca tabel angka panjang. SPSS (Statistical Package for the Social Sciences) menyediakan berbagai jenis grafik yang dapat disesuaikan untuk kebutuhan analisis kuantitatif. Artikel ini memberikan panduan langkah demi langkah untuk membuat, memformat, dan mengekspor grafik di SPSS, disertai tips praktis untuk menghasilkan visual yang informatif dan profesional. Mengapa Memilih Grafik di SPSS? SPSS memudahkan pembuatan grafik bagi peneliti yang bekerja dengan dataset besar. Keunggulannya meliputi: Antarmuka grafis yang intuitif (menu Chart Builder dan Legacy Dialogs). Kemampuan untuk menggabungkan statistik ringkasan langsung dalam grafik (misalnya mean, error bars). Opsi kustomisasi yang cukup untuk kebutuhan akademik dan presentasi. I...

Analisis Moderasi di SmartPLS: Panduan Akademik Lengkap untuk Penelitian Kuantitatif

  Pendahuluan Dalam penelitian kuantitatif, hubungan antara variabel tidak selalu bersifat sederhana dan langsung. Pada banyak kasus, kekuatan atau arah hubungan antara variabel independen dan dependen dapat dipengaruhi oleh variabel lain yang dikenal sebagai variabel moderator . Analisis yang melibatkan variabel moderator menjadi penting untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan realistis terhadap fenomena yang diteliti. Seiring berkembangnya metode analisis data, pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) semakin banyak digunakan, terutama dalam penelitian sosial, manajemen, pendidikan, dan bisnis. SmartPLS sebagai salah satu perangkat lunak PLS-SEM menyediakan fitur analisis moderasi yang relatif mudah digunakan, namun tetap memerlukan pemahaman konseptual yang kuat. Permasalahan umum yang sering dihadapi mahasiswa dan peneliti pemula adalah kebingungan dalam menentukan jenis moderasi, kesalahan dalam membangun model interaksi, serta ket...